Rabu, 26 September 2012

Jangan Campurkan Susu dengan Teh

Selain air putih, teh adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Kandungan antioksidan, vitamin, dan komponen lain dalam teh membuat teh dipercaya sebagai minuman untuk meningkatkan fungsi imun dan mencegah kanker.

Beberapa penelitian juga menunjukkan teh bisa mencegah gigi berlubang, menjaga kadar gula darah, dan menyehatkan jantung.

Di banyak tempat, teh seringkali disajikan bersama dengan susu. Walau hasilnya lebih nikmat, tetapi penelitian menyebutkan menambahkan susu ke dalam teh bisa mengurangi kandungan berkhasiat dalam teh.

Dalam studi yang dipublikasikan di The European Heart Journal, para peneliti menguji 16 orang dewasa sehat yang diminta minum secangkir teh hitam, teh hitam dicampur sedikit susu tanpa lemak, serta air yang dimasak. Kemudian fungsi vaskular para responden diukur.

Jika dibandingkan dengan air, teh hitam secara signifikan meningkatkan fungsi arteri. Tetapi penambahan sedikit susu malah menyebabkan khasiat teh itu tidak tampak.

Para peneliti kemudian mengulanginya pada tikus dan mendapatkan hasil yang sama. Menurut para ahli, protein dalam susu akan mengikat dan menetralisir antioksidan dalam teh. Susu malah berbanding terbalik dengan manfaat teh bagi fungsi vaskular.

Kerugian tersebut bukan cuma disebabkan oleh susu sapi saja, tapi juga oleh susu kedelai. Protein dalam susu kedelai juga menetralisir antioksidan teh. Karena itu jika ingin mendapatkan manfaat kesehatan dari teh, mungkin teh dan susu sebaiknya diminum terpisah.


Sumber : New York Times

Pentingnya Komunikasi Saat Berhubungan Intim

Kepuasan seksual antara suami istri tak melulu dapat dicapai melalui variasi atau gaya bercinta. Kepuasan justru dapat diraih dengan membiasakan pasangan saling berkomunikasi selama hubungan seks berlangsung.

Komunikasi  dan sikap terbuka perlu dikembangkan oleh setiap pasangan karena hal ini sangat bermanfaat bagi kelanggenangan hubungan suami dan istri. Hal ini pun telah didukung oleh hasil penelitian yang menemukan adany korelasi antara komunikasi  dengan kepuasan seksual. Penelitian menyimpulkan, orang yang nyaman dan terbuka berbicara tentang seks akan berlaku sama ketika mereka mempraktikkannya.

"Bahkan, saat Anda merasa sedikit cemas untuk berkomunikasi, ternyata itu bisa mempengaruhi kepuasan pasangan," kata Elizabeth Babin, pakar komunikasi kesehatan dari Universitas Cleveland State, Ohio Amerika Serikat. Kecemasan mungkin akan membuat seseorang tidak berkonsentrasi dan mempengaruhi kepuasan selama aktivitas seks berlangsung.

Bagi para peneliti, bagaimana orang leluasa berbicara soal seks merupakan topik yang penting. Kebanyakan orang merasa tidak nyaman menyampaikan keinginannya, misalnya ketika meminta pasangannya memakai kondom, demi mengurangi risiko infeksi penyakit seksual menular.

Babin dan timnya meneliti 207 responden. Sebanyak 88 orang di antaranya tidak lulus sekolah dan 119 lainnya didapat dari responden online. Responden ditanya terkait apa ketakutan mereka untuk berkomunikasi, bagaimana kepuasan seksual mereka, serta berapa banyak komunikasi non verbal maupun verbal yang dilakukan selama berhubungan seks. Responden diminta menjawab sejumlah pertanyaan, di antaranya  apakah merasa gugup untuk berbicara dengan pasangan soal hubungan seksual atau apakah mereka cemas jika memberitahu pasangan tentang apa yang disukai saat berhubungan seks.

Responden yang berusia rata-rata 29 tahun ini juga ditanya mengenai kepercayaan diri seksual mereka, sebaik apa pasangannya dan seberapa jauh ketrampilan seksual mereka.

Hasil survei yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Social and Personal Relationships  itu mengungkapkan, takut berbicara soal seks dapat mempengaruhi kenikmatan seks. Dimana ketakutan berhubungan dengan kurangnya komunikasi di tempat tidur dan mengurangi kepuasan seksual secara keseluruhan. Yang mengejutkan, orang takut mengkomunikasikan seksualnya karena masalah harga diri.

Namun, Babin mengakui, meskipun komunikasi saat berhubungan seks itu terkait kepuasan, ternyata tidak semua orang memilikinya. "Komunikasi seksual adalah keterampilan, dan tidak semua orang langsung memilikinya," ujarnya.

Oleh karena itu, jika komunikasi secara verbal dengan pasangan dinilai terlalu terbuka, Babin menyarankan agar pasangan melakukan komunikasi non verbal. Mungkin, erangan atau gerakan tertentu bisa mengungkapkan kepada pasangan, bahwa seseorang benar-benar menikmati hubungan seks.

Sumber : LIVESCIENCE

Sabtu, 22 September 2012

Salmon Crispy dengan Tropical Salsa

Bahan:
180 gr Salmon tanpa duri

Bumbu:
Cajun
1/2 sdt sdt cabe bubuk
1/2 sdt paprika bubuk
1/2 sdt bawang putih bubuk
1/2 sdt bawang merah bubuk
1/2 sdt kayumanis, parut
1/4 sdt biji pala
garam, secukupnya
gula, secukupnya
* (untuk membuat bumbu ini, ukuran bumbunya bisa disesuaikan dengan selera Anda. Jika suka yang lebih berempah maka bumbu ini bisa digunakan dalam jumlah yang lebih banyak)

Tropical Salsa:         
300 gr mangga, potong dadu kecil
300 gr nanas, potong dadu
2 buah cabe merah, hilangkan bijinya
1/2 bagian paprika merah, potong dadu
daun ketumbar, secukupnya
1 sdm cuka beras (jika ingin rasa yang lebih kuat, tambahkan cukanya)
sesame oil, secukupnya
garam dan gula secukupnya

Cara Membuat:

1. Panaskan oven sekitar 250 derajat. Sisihkan
2. Siapkan ikan, balurkan bumbu cajun di selurun bagiannya kecuali bagian kulitnya.
3. Tambahkan sedikit sesame oil dan sedikit garam dan ratakan. Diamkan beberapa menit.
4. Panggang ikan selama 8-10 menit. Namun jika ingin mendapatkan daging ikan yang underdone (tidak terlalu matang), panggang ikan selama 8 menit. Jika ingin yang sedikit kering, panggang selama 10 menit.
5. Tropical Salsa: Campur semua bahan-bahan ini jadi satu dan ratakan. sisihkan.
6. Penyajian: Letakkan satu sendok tropical salsa ini di bagian dasar piring. Kemudian letakkan salmon panggang di atasnya.

* Resep dari Chef Patrick Farjas, Executive chef Century Park Hotel, Jakarta Selatan

Kue Putu Ayu

Bahan:
2 btr telur
225 gr gula pasir
1 sdt emulsifier
150 gr tepung terigu
200 ml santan dari ½ btr kelapa
3 tetes pewarna hijau
100 gr kelapa setengah tua, kupas, parut kasar
¼ sdt garam

Cara membuat:
1. Panaskan kukusan terlebih dahulu.
2. Kocok telur, gula pasir, dan emulsifier hingga mengembang dan putih. Kemudian masukkan tepung terigu. Aduk rata.
3. Tuang santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata.
4. Masukkan pewarna hijau, aduk rata.
5. Campur kelapa dan garam hingga rata.
6. Masukkan campuran kelapa pada dasar cetakan sambil sedikit ditekan agar padat.
7. Tuang adonan kue putu ayu hingga cetakan penuh.
8. Kukus selama 20 menit. Angkat, sajikan.

Untuk 20 porsi

Tips:
* Gunakan api sedang waktu mengukusnya agar kue tidak merekah.
* Jangan terlalu banyak menabur kelapa parut di dasar cetakan karena akan membuat tampilan kue kurang cantik.

Resep: Erwin Kuditawati
Uji Dapur: Klub Nova
Penata Saji: T. Firta Hapsari

Reputasi soft drink sebagai ancaman bagi kesehatan menurut para ahli bisa disejajarkan dengan bahaya rokok. Kebiasaan mengonsumsi soft drink, menurut peneliti, dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius seperti obesitas, jantung, kerusakan gigi dan gangguan hati.

Sebenarnya apa yang membuat minuman bersoda berbahaya? Para ahli di Center for Science in Public Interest, sebotol atau sekaleng soft drink mengandung tambahan kadar gula yang tinggi namun tidak memiliki nutrisi. Akibatnya, terlalu sering mengonsumsi soda bisa meningkatkan asupan kalori. Berbagai penelitian menunjukkan hobi mengonsumsi soft drink terkait erat dengan berat badan berlebih. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukan, untuk setiap kaleng soda yang diminum seorang anak tiap hari, risikonya mengalami obesitas naik sampai 60 persen.

Berbagai penelitian juga mengaitkan antara kebiasaan mengonsumsi minuman soda dengan risiko menderita diabetes tipe 2. Ada juga peneliti yang menyebut soft drink meningkatkan risiko terkena osteoporosis karena soda menghambat penyerapan kalsium.

"Dalam minuman manis juga banyak mengandung kafein yang memiliki sifat adiktif. Setiap orang harus meningkatkan kesadaran mereka terkait akan ancaman kesehatan yang mirip dengan sifat adiktif pada produk tembakau," ujar, Dr Lori Dorfman, ahli kesehatan masyarakat.

Dr Dorfman dan rekan, dari University of California, mengimbau kepada perusahaan minuman ringan supaya menghentikan target pemasaran mereka ke anak-anak muda, mengingat risikonya terhadap masalah kesehatan.

Peneliti mengatakan, minum hanya dua kaleng soft drink sehari telah terbukti menyebabkan masalah kerusakan hati dalam jangka panjang, kondisi yang umumnya dijumpai pada para pecandu alkohol. Kerusakan hati, pada akhirnya mengharuskan penderita untuk menjalani transplantasi hati karena fungsi hati mereka tidak lagi dapat memproses sejumlah besar gula.