Rabu, 26 September 2012

Pentingnya Komunikasi Saat Berhubungan Intim

Kepuasan seksual antara suami istri tak melulu dapat dicapai melalui variasi atau gaya bercinta. Kepuasan justru dapat diraih dengan membiasakan pasangan saling berkomunikasi selama hubungan seks berlangsung.

Komunikasi  dan sikap terbuka perlu dikembangkan oleh setiap pasangan karena hal ini sangat bermanfaat bagi kelanggenangan hubungan suami dan istri. Hal ini pun telah didukung oleh hasil penelitian yang menemukan adany korelasi antara komunikasi  dengan kepuasan seksual. Penelitian menyimpulkan, orang yang nyaman dan terbuka berbicara tentang seks akan berlaku sama ketika mereka mempraktikkannya.

"Bahkan, saat Anda merasa sedikit cemas untuk berkomunikasi, ternyata itu bisa mempengaruhi kepuasan pasangan," kata Elizabeth Babin, pakar komunikasi kesehatan dari Universitas Cleveland State, Ohio Amerika Serikat. Kecemasan mungkin akan membuat seseorang tidak berkonsentrasi dan mempengaruhi kepuasan selama aktivitas seks berlangsung.

Bagi para peneliti, bagaimana orang leluasa berbicara soal seks merupakan topik yang penting. Kebanyakan orang merasa tidak nyaman menyampaikan keinginannya, misalnya ketika meminta pasangannya memakai kondom, demi mengurangi risiko infeksi penyakit seksual menular.

Babin dan timnya meneliti 207 responden. Sebanyak 88 orang di antaranya tidak lulus sekolah dan 119 lainnya didapat dari responden online. Responden ditanya terkait apa ketakutan mereka untuk berkomunikasi, bagaimana kepuasan seksual mereka, serta berapa banyak komunikasi non verbal maupun verbal yang dilakukan selama berhubungan seks. Responden diminta menjawab sejumlah pertanyaan, di antaranya  apakah merasa gugup untuk berbicara dengan pasangan soal hubungan seksual atau apakah mereka cemas jika memberitahu pasangan tentang apa yang disukai saat berhubungan seks.

Responden yang berusia rata-rata 29 tahun ini juga ditanya mengenai kepercayaan diri seksual mereka, sebaik apa pasangannya dan seberapa jauh ketrampilan seksual mereka.

Hasil survei yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Social and Personal Relationships  itu mengungkapkan, takut berbicara soal seks dapat mempengaruhi kenikmatan seks. Dimana ketakutan berhubungan dengan kurangnya komunikasi di tempat tidur dan mengurangi kepuasan seksual secara keseluruhan. Yang mengejutkan, orang takut mengkomunikasikan seksualnya karena masalah harga diri.

Namun, Babin mengakui, meskipun komunikasi saat berhubungan seks itu terkait kepuasan, ternyata tidak semua orang memilikinya. "Komunikasi seksual adalah keterampilan, dan tidak semua orang langsung memilikinya," ujarnya.

Oleh karena itu, jika komunikasi secara verbal dengan pasangan dinilai terlalu terbuka, Babin menyarankan agar pasangan melakukan komunikasi non verbal. Mungkin, erangan atau gerakan tertentu bisa mengungkapkan kepada pasangan, bahwa seseorang benar-benar menikmati hubungan seks.

Sumber : LIVESCIENCE


Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar