Rabu, 18 Juli 2012

Suarez Ungkap Muslihat MU di Balik Kasus Evra


Striker Liverpool, Luis Suarez, tampaknya masih belum benar-benar bisa menerima sanksi atas tuduhan pelecehan rasialisme yang dilakukannya kepada pemain bertahan Manchester United, Patrice Evra. Dia kembali mengungkit kasus ini dan menumpahkan kekesalannya dalam acara televisi di kampung halamannya di Uruguay, RR Gol.

Yang mengejutkan, seperti dilansir The Sun, Suarez mengungkapkan muslihat MU dalam kasus ini sehingga publik yakin bahwa dirinyalah yang bersalah. Menurutnya, "The Red Devils" telah merekayasa sejumlah fakta yang semakin menyudutkan dirinya, terutama soal menolak jabat tangan Evra ketika kedua tim bertemu, 11 Februari lalu.

"Apa yang terjadi antara saya dan Evra di Old Trafford hanyalah kesalahpahaman. Pada faktanya, saya berpikir ini sudah diatur untuk menyerang saya lagi, sama seperti yang sudah terjadi dengan dijatuhkannya sanksi," ungkapnya seperti dilansir The Sun.

"Media di Inggris menunjukkan momen ketika saya lewat di depannya, namun mereka tidak melihat bahwa tangannya lebih rendah sebelumnya. Hanya media di Uruguay dan Spanyol menunjukkan bahwa saya ingin menjabat tangannya. Namun di Inggris, United memiliki kekuatan politik, dan Anda harus menghormatinya dan menutup mulut Anda," tuturnya kemudian.

Pemain berusia 25 tahun itu mengatakan bahwa sebelum laga itu, dia sudah berjanji kepada istri, manajer dan direktur (klub) untuk menjabat tangan Evra. Menurut Suarez, meski dirinya dihukum karena Evra, namun tak masalah baginya untuk berjabat tangan atau menyapanya.

"Saya berpikir 'kenapa tidak', jika sanksi saya telah berakhir. Saya tak punya masalah dengan Evra. Ini hanyalah soal jabat tangan dan saya tak ada masalah dengan itu," katanya.

Suarez mengaku bahwa persoalan yang membuatnya harus menanggung sanksi larangan bermain di delapan kali pertandingan itu telah menguras emosinya dan istrinya. Pemain asal Uruguay itu mengungkapkan bahwa air mata telah menjadi bagian kehidupannya saat diterpa masalah tersebut.

"Hal yang sulit yang terjadi pada saya. Saya tidak menunjukkan emosi saya di lapangan namun di luar, saya menunjukkannya, dan saya terus menangis karena persoalan Evra ini. Minggu-minggu penuh cobaan sangatlah kompleks dan saya serta istri saya terus menangis. Kemudian saya menyadari siapa orang-orang yang benar-benar mendukung saya dan siapa yang ada di dekat saya hanya karena kepentingan pribadi," ujarnya.

"Orang-orang di klub saya yakin bahwa ini adalah cara United untuk menyingkirkan saya dari tim dan menghentikan Liverpool. Saya pernah pergi ke Manchester di dalam taksi untuk percobaan. Saya bangun pukul tujuh pada pagi hari dan kembali ke rumah pukul sembilan malam. Saya letih, sangat capek dan ingin menangis dan menendang segala sesuatu di sekeliling saya. Saya kembali ke rumah ingin melakukannya, namun saya tak bisa melakukannya karena anak perempuan saya ada di sana. Itu adalah hari-hari yang melelahkan dan kemudian makin sulit setelah sanksi dijatuhkan," ungkapnya kemudian.

sumber : kompas


Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar